LET'S START AND COUNT OUR BLESSINGS

Enjoy this BLOG .. :)

March 5, 2013

Dahulu, ketika jiwanya belum terbelah, ketika kebersamaan masih begitu mudah, dia menyemai bibit dalam hati.
Begitu asiknya, hingga saat setengah jiwanya pergi, sudah terlambat untuk mematikan tanaman hati itu.
Membiarkannya menunggu tanpa tenggat waktu.
Rasanya, sekedar melanjutkan hidup sekedar mengitung mundur menuju hari akhir. Namun, dia rela.
Engkau mengatainya bodoh. Namun, dia rela.

Ada yang menyendiri sambil menatap langit.
Baginya, menarik napas pun seolah membuat nyawanya terempas.
Rindu yang menyesakkan.
Pada titik tertentu ,seperti mengosongkan paru-paru. Tanpa udara.
Rasa yang sudah begitu renta, tetapi tak pernah menjadi kata-kata

Hingga kini, menunggu baginya tak harus selalu bertemu. Ia melarikkan bait puisi tanpa berharap setengah jiwanya kembali.
Kepada temaram petang, dia melengkungkan perasaannya yang berumur selamanya. Terkadang, hasratnya menggejolak, menghasutnya untuk melakukan sebuah perjalanan.
Meniti jejak di permukaan pelangi.
Barangkali setengah jiwanya berada disana.

Jika watu adalah kupu-kupu, sudah lelah hatinya melanglang setiap sudut bumi.
Sampai waktunya untuk berhenti.
Tetap menunggu, tapi tak berharap untuk bertemu.
Dia menyadari, tidak semua yang indah layak diperjuangkan.
Maka, yang tertinggal adalah jejak kasih yang mulai memburam. Ia bersihkan setiap debu yang membuat jejak itu tak gemintang.
Mencoba bergembira dengan apa yang pernah terjadi.
Menyimpannya sebagai sekotak perhiasan.
Engkau mengatainya sia-sia. Namun, dia tetap cinta

0 coments:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Post a Comment